NAMA:YOHANES KAHA
NIM:2014210162
KELAS:B
MATA KULIA:FILSAFAT ADMINISTRASI
A.
TEORI
KEPEMIMPINAN SITUASIONAL
Teori ini merupakan pengembangan dari model
kepemimpinan tiga dimensi, yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor,
yaitu :
1.
Perilaku tugas (task behavior),
2.
Perilaku hubungan (relationship
behavior)
3.
Kematangan (maturity).
a)
Perilaku tugas (task behavior),
Perilaku tugas merupakan pemberian petunjuk oleh
pemimpin terhadap anak buah meliputi penjelasan tertentu, apa yang harus
dikerjakan, bilamana, dan bagaimana mengerjakannya, serta mengawasi mereka
secara tepat.
b) Perilaku
hubungan (relationship behavior)
Perilaku hubungan merupakan ajakan yang disampaikan
oleh pemimpin melalui komunikasi dua arah yang meliputi mendengar dan
melibatkan anak buah dalam pemecahan masalah.
c) Kematangan (maturity).
Kematangan
adalah kemampuan dan kemauan anak buah dalam mempertanggung jawabkan pelaksanan
tugas yang dibebankan kepadanya. Dari ketiga faktor tersebut, tingkat kematangan
anak buah merupakan faktor yang paling dominan. Karena itu, tekanan utama dari
teori ini terletak pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan anak buah.
B.TEORI SIFAT
Sesuai dengan namanya,
maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung
pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat yang dimiliki antara
lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social. Penganut teori ini
yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka seseorang akan memiliki
kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi pemimpin yang efektif.
Karakter yang harus dimiliki oleh seseorang menurut Judith R. Gordon mencakup
kemampuan yang istimewa dalam
a. Kemampuan Intelektual
b. Kematangan Pribadi
c. Pendidikan
d. Status Sosial dan Ekonomi
e. Human
C.
KESIMPULAN TEORI
SITUASIONAL
Teori situasiaonal mengasumsikan
bahwa kondisi menentukan efektifitas pemimpin bervariasi menurut situasi,
keterampilan dan harapan bawahan, lingkungan organisasi, pengalaman masa lalu
pemimpin dan bawahan. Lebih dari itu, berdasarkan teori ini ciri khas yang ada
adalah “kematangan” pada anak buah.
Teori ini mengacu lebih pada
hubungan antara pemimpin dengan bawahan agar hubungan dalam menjalani suatu
pekerjaan di dalam organisasi atau di
lembaga tempat bekerja pemimpin dan bawahan bisa memiliki hubungan
komunikasi yang baik agar masalah-masalah yang timbul dalam suatu lembaga atau
organisasi dapat di selesaikan
sesuai keputusan yang matang pula .
D.
KESIMPULAN
TEORI SIFAT
Teori sifat mengasumsikan pada suatu
kondisi pribadi seseorang yang di mana dalam diri seseorang telah memiliki
kelebihan/keunggulan karakter dalam hal
kepemimpinan yang baik dan di bisa di contohi oleh orang lain.
E.
SUMBERNYA
F.
TEORI
KEPEMIMPINAN SITUASIONAL
Teori ini merupakan pengembangan dari model kepemimpinan
tiga dimensi, yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor, yaitu :
4.
Perilaku tugas (task behavior),
5.
Perilaku hubungan (relationship
behavior)
6.
Kematangan (maturity).
1) Perilaku
tugas (task behavior),
Perilaku tugas merupakan pemberian petunjuk oleh
pemimpin terhadap anak buah meliputi penjelasan tertentu, apa yang harus
dikerjakan, bilamana, dan bagaimana mengerjakannya, serta mengawasi mereka
secara tepat.
2)
Perilaku hubungan (relationship
behavior)
Perilaku hubungan merupakan ajakan yang disampaikan
oleh pemimpin melalui komunikasi dua arah yang meliputi mendengar dan
melibatkan anak buah dalam pemecahan masalah.
3)
Kematangan (maturity).
Kematangan
adalah kemampuan dan kemauan anak buah dalam mempertanggung jawabkan pelaksanan
tugas yang dibebankan kepadanya. Dari ketiga faktor tersebut, tingkat
kematangan anak buah merupakan faktor yang paling dominan. Karena itu, tekanan
utama dari teori ini terletak pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan
anak buah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar